Kamis, 05 Juni 2014

Pantai Prigi


 
Pantai ini terletak di desa Tasikmadu, kecamatan Watulimo, atau sekitar 48 Km arah selatan Kota Trenggalek. Selain menjadi obyek wisata yang sering dikunjungi, pantai Prigi juga merupakan pelabuhan nasional, dimana tempat penangkapan ikan terbesar di pantai selatan pulau Jawa

Pengunjung yang datang ke pantai ini bisa menikmati waktu dengan memancing, berkemah, tenis atau hanya tinggal di beberapa hotel dekat pantai dan menikmati suasana yang elok.

Pantai Prigi akan menjadi lebih ramai di bula Selo, kalender Jawa, karena para nelayan di pantai ini akan menggelar upacara tradisional Larung Sembonyo, yang merupakan upacara tahunan sebagai bentuk ucap syukur kepada Tuhan akan hasil laut yang melimpah.

Selain sebagai upacara ucap syukur, penduduk lokal juga percaya bahwa ritual Larung Sembonyo diadakan sebagai bentuk peringatan pernikahan dalam sejarah Raden Tumenggung Yudha Negara, yaitu seorang kepala prajurit Kerajaan Mataram yang berhasil membuka wilayah Prigi dengan jaminan bersedia menikahi Putri Gambar Inten.



 




Pantai Pasir Putih Trenggalek


 
Pantai Pasir Putih Trenggalek adalah salah satu andalan wisata di Kabupaten Trenggalek selain Pantai Prigi. Dengan hamparan pasir pantai yang memukau mata, ditambah pantai yang menyuguhkan keelokan laut. Pantai Pasir putih menjadi tujuan utama para muda mudi dan keluarga menghabiskan waktu liburan menikmati keindahan alam. Kenapa disebut pantai Pasir Putih?. Apakah pasirnya memang putih?. Jika jawabannya itu, memang benar. Pantai Pasir Putih memiliki hamparan pasir pantai yang berwarna putih. Panjang pantai pasir putih sekitar 400 meter. Dasar pantai pasir putih merupakan karang, sehingga jika surut datang terlihat hamparan batu karang yang luas.

Pantai ini terletak kurang lebih 3 KM ke timur dari pantai Prigi. Meskipun kabupaten Trenggalek lebih dikenal dengan pantai priginya, namun banyak pengunjung lebih menyukai pantai pasir putih karena. Pasirnya yang putih dan bersih, debur ombaknya yang menenangkan dan kedalamannya yang dangkal bisa menjdai tempat yang nyaman dan aman untuk berenang, berjemur, bermain pasir, bersantai, menikmati waktu liburan. Pesonanya membuat para pengunjung betah berlama-lama.

Jika ingin merasakan kuliner sambil menikmati suasana pantai yang indah, anda dapat menyantap menu ikan bakar yang fresh dengan es kelapa muda hijau segar. Ikan bakar tersebut sungguh segar karena baru ditangkap dari laut hari itu juga, kemudian disajikan hari itu juga. Selain itu juga terdapat souvenir-souvenir berupa kaos dan batik tulis khas trenggalek.

Kawasan pasir putih ini ditumbuhin dengan rindangnya pohon, yang akan membuat kita makin nyaman untuk bersantai bareng keluarga, menikmati makan siang sambil menikmati sepoinya angin pantai, yang tentunya akan membuat otak kita refresing setelah jenuh dengan pekerjaan. so tunggu apa lagi, segera ajak keluarga atau temen-teman untuk mengunjungi indahnya Pantai Pasir Putih Trenggalek.

Fasilitas dan Akomodasi Wisata Pantai Pasir Putih Trenggalek

Walaupun tempat ini tidak kalah terkenal dengan pantai-pantai yang ada di pesisir selatan daerah Yogyakarta, namun untuk masalah fasilitas Pantai Pasir Putih memiliki fasilitas wisata yang cukup lengkap. Jika anda ingin menginap di hotel atau penginapan, anda bisa menuju kawasan pantai prigi yang tidak jauh dari lokasi pantai pasir putih ini. berikut fasilitas yang ada di pantai pasir putih.

Beberapa orang menawarkan perahu yang siap untuk mengantar anda ke sebuah pulau kecil bernama pulau asmara. Dengan tarif sekitar 50ribu anda akan dibawa berkeliling ke pulau kecil ditengah teluk.

Kalau tiba-tiba perut kita keroncongan, di sekitar pantai juga beredar warung-warung makanan dan jajanan dengan harga yang terjangkau.
Tersedia juga Musholla bagi yang ingin melaksanakan ibadah sholat.
Tersedia Toilet atau kamar mandi yang juga menyediakan celana buat basah-basahan bagi anda yang ingin bermain di tepi pantai.
Lokasi parkir yang cukup luas dan aman walaupun terkadang di musim liburan parkir tersebut penuh sesak hehehe.
Anda juga bisa membawa pulang ikan bakar asap yang dijajakan oleh penjual di sepanjang jalan menuju pintu masuk pantai pasir putih ini.
Rute Menuju Wisata Pantai Pasir Putih Trenggalek

Untuk bisa sampai menuju lokasi Pantai Pasir Putih, anda harus menempuh jalan yang berkelok-kelok. Bagi pengendara sepeda motor diwajibkan untuk sangat hati-hati karena beberapa jalan ada yang berlubang (semoga sudah diperbaiki) dan ada pula air bekas mobil yang membawa ikan. Menurut warga sekitar banyak pengendara sepeda motor yang jatuh karena lubang dan air bekas mobil yang membawa ikan tersebut (jalan jadi sangat licin).

Anda bisa menaiki MPU jenis colt/ bison tersedia mulai dari simpang tiga Durenan dari terminal kota Trenggalek menggunakan mini bus kecil jurusan Trenggalek -Durenan – Bandung – Watulimo turun di desa Watuagung dengan waktu pelayanan transportasi dari pukul 06.00 s.d 17.00 WIB. Jika anda ingin kesini saat musim liburan lebaran hari raya, anda harus bersabar karena padatnya jalan, banyak wisatawan ingin menuju lokasi ini. jarak tempuh dari kota Trenggalek kira2 1 jam perjalanan. walaupun jarahnya cuma 30KM dari pusat kota Trenggalek.






Pantai Popoh





Pantai Popoh, adalah salah satu obyek wisata pantai yang terletak di Tulungagung, tepatnya di pesisir Samudra Hindia, 30 Km sebelah selatan kota Tulungagung.
Pantai yang langsung berhadapan langsung dengan laut Bebas Samudera Hindia ini memang banyak menawarkan keeksotikan keindahan panorama pantai, baik wisata bahari maupun keindahan deburan ombaknya.

Pantai Popoh merupakan salah satu obyek wisata andalan daerah Tulungagung, berbagai acara selalu diadakan di kawasan wisata ini baik itu musik ataupun acara-acara lain. Hampir setiap hari libur dan hari besar kawasan wisata ini selalu dipadati pengunjung, baik yang berasal dari sekitar Tulungagung maupun luar Tulungagung bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar negeri.

Pantai Popoh berbentuk teluk dan berada di ujung timur pegunungan Kidul. Air yang cukup tenang, angin laut yang tidak begitu kuat, dan keindahan gunung disekitar teluk telah menjadi daya tarik utama pantai ini.

















Wisata Air Terjun Dolo di Kediri

 Tempat wisata Air Terjun Dolo terletak di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kediri, Jawa Timur. Jarak tempuh dari Kota Kediri ke arah barat, kurang lebih 25 kilometer. Meski agak jauh, tapi pemandangan di sepanjang jalan menuju lokasi terbilang sangat indah dan asri.

Perjalanan ke Wisata Air Terjun Dolo memang lumayan memakan waktu, sekitar dua jam dari Pare atau sekitar satu jam dari kota Kediri. Tetapi perjalanan itu tidak akan terasa dengan pemandangan di kanan dan kiri yang terasa sejuk karena di daerah tersebut sering turun hujan.
Jika kuat menyusuri 4 km lagi, Anda akan menemukan panorama menakjubkan dengan sejuta tantangan untuk menikmatinya yaitu air terjun kedua, yakni air terjun Dolo. Meski hanya berjarak 4 km dari air terjun Irenggolo, tampak terasa jauh karena akses jalan masih berupa hutan perawan yang sangat menantang dengan kealamian yang masih terasa. Tidak hanya sampai di situ tantangan yang diberikan sebelum menikmati pesona air terjun Dolo. Kita harus menyusuri kurang lebih seribu anak tangga berbentuk batuan yang masih alami, melingkari daerah tersebut. Bebatuan tersebut menambah pesona dan nilai tersendiri yang membedakan dengan air terjun ditempat lain.

Dijamin tidak akan rugi jika sudah mencapai air terjunnya. Rasa lelah akan segera terbayarkan oleh kesejukan yang diberikan air terjun Dolo yang tumpahan airnya terbagi menjadi tiga bagian.
Setelah dibekukan oleh dinginnya Air Terjun Dolo, pengunjung dapat memanaskan suasana dengan menikmati fasilitas pariwisata yang tersedia seperti Joging ataupun Hiking Area. Bagi yang membawa keluarga dapat mengajaknya ke taman bermain yang tersedia. Tersedia pula Camping Ground bagi pengunjung yang ingin tinggal dan menikmati suasana kawasan ini lebih lama. Beberapa meter dari air terjun, kita dapat menemukan kebun sayur dan strowberi di sebuah pondokan yang terbuat dari bambu, pengunjung bisa membeli sayuran dan stroberi yang masih segar bahkan bisa langsung dapat memetiknya sendiri dari pohon.

Bagi pengunjung yang belum terbiasa dengan suasana dingin disarankan untuk membawa mantel atau baju hangat agar tetap bisa menikmati perjalanan Anda, karena dilokasi biasanya selalu diliputi mendung dan kabut yang tebal ditambah lagi kadar air yang cukup tinggi



Kabupaten Kediri masih kalah terkenal jika dibandingkan dengan daerah tetangga seperti Malang ataupun Batu, namun Kabupaten Kediri mempunyai potensi wisata alam yang tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan daerah tetangga misalnya dengan Air Terjun Dolo yang cantik.

Air terjun Dolo berada di bagian timur lereng gunung Wilis (2.850m) dengan ketinggian 1800 m dpl. Tumpahan airnya terbagi tiga bagian dimana bagian yang paling tinggi sekitar 125 m dan dibawahnya sekitar 2-5 m. Debit air yang dicurahkan tidaklah terlalu besar, namun cukup menarik untuk dinikmati.

Air terjun Dolo terletak di bagian timur dari lereng gunung Wilis (2.850 m) yang berada di ketinggian 1.800 dpl atau tepatnya ada di dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kediri.

Jarak tempuh Air terjun Dolo dari Kota Kediri adalah 25 km ke arah barat yang bisa ditempuh selama 50 menit atau 3,5 jam (sekitar 150 km) dari Bandara Juanda Surabaya.

Untuk perjalanan menuju Air Terjun Dolo, kita harus berhenti di Dusun Besuki dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, karena jalan menuju ke arah Air Terjun Dolo mendaki dan tidak mungkin dilewati kendaraan. Jalanannya berupa tangga-tangga dari bebatuan yang dibuat melingkari daerah tersebut. Bebatuan tersebut menambah pesona dan nilai tersendiri yang membedakan dengan air terjun ditempat lain.

Setelah dibekukan oleh dinginnya Air Terjun Dolo, pengunjung dapat memanaskan suasana dengan menikmati fasilitas pariwisata yang tersedia seperti Joging ataupun Hiking Area. Bagi yang membawa keluarga dapat mengajaknya ke taman bermain yang tersedia. Tersedia pula Camping Ground bagi pengunjung yang ingin tinggal dan menikmati suasana kawasan ini lebih lama. Beberapa meter dari air terjun, kita dapat menemukan kebun sayur dan strowberi di sebuah pondokan yang terbuat dari bambu, pengunjung bisa membeli sayuran dan stroberi yang masih segar bahkan bisa langsung dapat memetiknya sendiri dari pohon.

Bagi pengunjung yang belum terbiasa dengan suasana dingin disarankan untuk membawa mantel atau baju hangat agar tetap bisa menikmati perjalanan Anda, karena dilokasi biasanya selalu diliputi mendung dan kabut yang tebal ditambah lagi kadar air yang cukup tinggi.

Tiket dan Parkir
Tiket masuk adalah Rp 3000 per orang. Sedangkan biaya parkir adalah Rp 1000 per kendaraan untuk roda dua.(Sekarang belum tau berapa lama gak kesitu)

Fasilitas dan Akomodasi
Sarana transportasi, komunikasi, dan listrik telah mendukung keberadaan objek wisata ini. Demikian pula, berbagai prasarana fisik yang lain, seperti tempat parkir, toilet, kamar mandi, kolam renang dan musholla. Bahkan disini tersedia area untuk berkemah.

Hanya saja, di kawasan objek wisata tersebut belum dibangun penginapan. Sehingga jika ingin bermalam harus ke kota Kediri.












 

Goa pasir

 Mendengar nama Goa Pasir pasti yang terbayang adalah sebuah goa yang terletak di daratan berpasir dan gersang atau mungkin kita akan membayangkan sebuah goa yang di dalamnya banyak pasirnya. Tetapi setelah datang langsung ke lokasi, bayangan itu tidak akan pernah terbukti sama sekali. Kenapa namanya Goa Pasir?? Karena goa tersebut terletak di Dusun Pasir. lebih tepatnya Dusun Pasir, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.  Jaraknya sekitar 10 Km dari pusat kota.  Untuk mengunjunginya cukup mudah,dari kota Tulungagung ikuti jalan raya ke arah Blitar lalu ikuti penunjuk arah atau tanya pada penduduk. Goa Pasir merupakan goa buatan yang dibuat dengan melubangi lereng bukit.
Ada pelataran cukup luas sesaat memasuki lokasi. Untuk sampai ke goa kita harus melewati jalan setapak yang penuh batu- batu besar dengan kondisi jalan yang sedikit terjal, lalu kita harus merayap di bebatuan besar ketika mendekati lokasi goa.
Lokasi Goa Pasir ini banyak menyimpan berbagai benda purbakala (Patung, berbagai pahatan/relief yang ada di antara bebatuan, makam kuno dan goa) yang dapat dijadikan obyek wisata sejarah maupun cagar budaya. Beberapa artefak dan arca nampak tersisadi pojok pelataran. Di batu-batu besar,  terpahat beberapa relief yang sepertinya tidak tuntas dikerjakan.
Di lokasi ini terdapat dua goa, dari Buku yang berjudul TABUTA (Tapak Budaya Tulungagung) karangan Drs. M Dwi Cahyono, M.Hum dijelaskan bahwa Goa Pasir atau yang dinamakan Situs Karsyan, berbentuk bangun landam kuda serta tinggalan arkeologi yang berupa goa pertapaan yang berisi banyak relief (goa I) dengan ukuran goa 260 x 175 cm dan kedalaman 218 cm dengan ketinggian 200M di atas permukaan tanah tanpa disertai dengan tangga batu. Dan goa II yang tidak ber-relief dengan posisi tebing bawah dengan keadaan mulut lebih besar dari goa I berukuran 305 x 255 x 190 cm dan kedalaman 255 cm posisi goa menghadap ke barat. Dalam buku TABUTA juga dijelaskan bahwa sesuai dengan sebutannya yaitu “Situs Goa Pasir“ dan fungsinya sebagai karsyan maka kedua Goa tersebut waktu itu difungsikan sebagai pertapaan. Hal tersebut didukung dengan banyaknya temuan lain yang tersebar di area goa serta sebagian yang tertimbun tanah, hal ini selaras dengan esoteris dari Hindu sekte Siwa Shidanta yang lazim di jalankan di lingkungan karsyan yang sifatnya tertutup.
Temuan lain di situs Goa Pasir berupa sisa struktur bangunan, berbangun bujur sangkar dengan ukuran sisi 700 cm berupa tatanan batu bata yang semula diperkirakan sebagai pondasi suatu asrama (rumah tinggal semi permanen bagi para Resi) dan hingga kini yang tersisa dari bangunan ini adalah bagian bangunan yang tampak di permukaan tanah yang berada di sisi selatan dan barat. Selain itu di area situs juga terdapat arca-arca lepas batu adesit, sedangkan arca yang tersisa berupa dua buah arca penjaga pintu (dwara pala) berbeda ukuran dan detail bentuknya, fragmen arca Ganesha (Putra kedua dari Dewa siwa dan parwati/uma) peninggalan kerajaan Majapahit dan ini di indikatori berupa pahatan teratai yang tumbuh dari vas bunga yang dipahat pada sandaran kanan kiri kaki arca. [1]
Berdasarkan catatan penelitian N.J. Krom dan Verbeek di situs Goa pasir pernah ditemukan arca batu yang sandarannya dipahatkan konogram saka 1325 (1403 M) dan 1224 S (1302 M) tahun 1302-1403 M yang berarti dari masa Majapahit, juga pernah ditemukan kronogram yang bertarikh Saka 1228 (1306 M), menunjuk pada zaman Majapahit oleh karena itu situs Karsyan Goa pasir diperkirakan sebuah peninggalan zaman Majapahit. [1]

sumber:tribunjatim.com
Pada bulan Mei 2013 lalu tim arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya dari Trowulan, Mojokerto, telah menyelesaikan penggalian situs purbakala Goa Pasir. Penggalian tersebut dipimpin arkeolog Nugroho Harjolukito. Mereka mendokumentasikan macam-macam artefak dari kompleks situs seluas kira-kira 1 hektare itu. Situs Goa Pasir ditemukan masyarakat sejak era kolonial Belanda tetapi hingga kini sebagian besar masih terpendam. Menurut ketua tim penggalian situs ini terpendam karena longsoran dari gunung. Situs Goa Pasir terletak di lereng perbukitan dekat kawasan Wajak, penghasil marmer Tulungagung yang terkenal. Pepohonan jati yang tak rapat di lereng bukit itu tak sanggup menahan longsoran tanah selama bertahun-tahun. Penggalian sebetulnya belum selesai sepenuhnya karena masih banyak area situs yang tertimbun tanah. Tapi hasil ekskavasi kali ini sudah menunjukkan adanya pemukiman yang bersifat religius di masa lalu, hal itulah yang menjadikan alasan dari tim untuk mengakhiri penggalian di situs Goa Pasir.
Relief Goa Pasir
Sesuatu yang menarik di dalam ceruk Goa Pasir adalah terdapat tiga bagian relief . Di bagian tengah ceruk tampak relief seorang pria yang sepertinya sosok seorang raja, bangsawan atau kesatria dengan seorang wanita. Di sisi kanan dan kiri  tampak relief pria bersorban yg di kelilingi para wanita, wanita-wanita itu menggoda pria bersorban dengan kemolekan tubuhnya. Pada bagian ini, biasanya anak-anak muda yang bertamasya ke goa tersebut lazim menyebutnya dengan relief mesum atau relief erotis. Sampai saat ini saya belum mendapatkan literatur yang menafsirkan gambar relief tersebut.
Mengingat tempat tersebut dulunya digunakan sebagai pertapaan yang merupakan sarana meditasi untuk mengasingkan diri dari godaan duniawi guna mencapai kemuliaan, maka menurut saya relief tersebut lebih mengarah pada pesan moral. Menggambarkan bahwa kehidupan di dunia penuh dengan godaan (disimbolkan dengan relief pria bersorban yang digoda dengan kemolekan tubuh wanita). Ketika manusia ingin mencapai kemuliaan maka akan banyak godaan-godaan duniawi yang indah-indah dan akan menjerumuskannya, jika manusia mampu melawan godaan-godaan tersebut maka kemuliaan lah yang di dapatnya.




Selasa, 03 Juni 2014

Candi Dadi

 Candi Dadi berada pada ketinggian 360 m dpl, berada di tengah areal kehutanan dilingkungan RPH Kalidawir. Candi ini masuk wilayah Dusun Mojo, Desa Wajak Kidul. Letaknya yang berada di puncak bukit membuat kita sedikit mengeluarkan tenaga untuk menikmati keindahannya karena kita wajib mendaki dengan menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya adalah hutan dan lahan yang ditanami palawija oleh penduduk sekitar bukit, selama kurang lebih 50 menit dari desa Wajak Kidul ke arah selatan. Sesampainya di puncak bukit kita akan menjumpai kekokohan Candi Dadi dan yang tak kalah menariknya adalah kita bisa menikmati keindahan Kecamatan Boyolangu dan sekitarnya dari ketinggian. 
Candi ini merupakan candi tunggal yang tidak memiliki tangga termasuk hiasan maupun arca. Candi tersebut berdiri tegak pada puncak sebuah bukit di lingkungan Pegunungan Walikukun. Denah Candi berbentuk bujursangkar dengan ukuran panjang 14m lebar 14m dan tinggai 6.5 m. Bangunan berbahan batuan andesit itu terdiri atas batur dan kaki candi. Berbatur tinggi dan berpenampilan setiap sisinya. Bagian atas batur merupakan kaki candi yang berdenah segi delapan, pada permukaan tampak bekas tembok berpenampang bulat yang kemungkinan berfungsi sebagai sumuran. Diameter sumuran adalah 3.35m dengan kedalaman 3m.
Latar Belakang Sejarah¹
Berakhirnya kekuasaan HayamWuruk juga merupakan masa suram bagi kehidupan Agama Hindu. Pertikaian politik yang terjadi di lingkungan kraton memunculkan kekacauan, seiring dengan munculnya agama islam. Dalam kondisi yang dermikian, penganut Hindu Budha yang berupaya menjauhkan diri dari pertikaian yang ada melakukan pengasingan agar tetap dapat menjalankan kepercayaan/ tradisi yang dimilikinya. Sebagaian besar memilih puncak- puncak bukit atau setidaknya kawasan yang tinggi dan sulit dijangkau. Biasanya tempat baru yang mereka pilih merupakan tempat yang jauh dari pusat keramaian maupun pusat Pemerintahan.
Candi Dadi adalah salah satu dari karya arsitektural masa itu sekitar akhir abad XIV hingga akhir abad XV.
Latar Belakang Budaya¹
Selain sebagai tempat pemujaan dapat diduga bahwa candi tersebut dahulu berfungsi juga sebagai tempat pengabuan, pembakaran jenazah tokoh penguasa. Sifat keagamaan yang melatar belakangi pendiriannya secara tepat belum diketahui. Hal tersebut disebabkan tidak ditemukannya data yang mampu menunjuang upaya pengenalannya secara langsung. Meskipundemikian sumuran yang terdapat di bagian tengah bangunan tersebut dapat digunakan sebagai petunjuk dari karakter sebuah pencandian berlatar keagamaan hindu. Keletakan pada puncak sebuah bukit yang cukup sulit untuk dijangkau, dihubungkan dengan anggapan masyarakat Indonesia kuno bahwa puncak gunung merupakan tanah suci. Sebagai sebuah tradisi yang berlangsung sejak jaman prasejarah yang percaya bahwa arwah paraluluhur berada disana, masyarakat penganut budaya hindu juga memanfaatkan puncak-puncak gunung untuk meletakkan bangunan sucinya. Hal itu berkaitan dengan mitos keagamaan dengan mitos keagamaan Hindu yang menganggap bahwa tempat bersemayamnya para dewa adalah tempat yang tinggi. Bila tidak terdapat sebuah puncak gunung atau bukit, merekamenggunakan teras berundak yang secara fisik dapat menggambarkan keletakanya yang lebih tinggi, atau dapat pula dilakukan dengan mengadakan pembagian halaman. Halaman terakhir adalah tempat, yang dianggap paling tinggi dan di tempat itulah diletakkan sesuatu yang dianggap paling megah atau paling besar sebagai cerminan kahyangan.
Berkenaan dengan faham yang demikian itu, lingkungan alam disekitar Candi Dadi memang sangat mendukung. Berada pada puncang bukit yang mengahadap kelembah utara ,karya arsitektur tersebut betul – betul menggambarkan kemegahan. Sesuatu yang memang patut dipersembahkan kepada sesembahanya. Tidak mengherankan bila disekitarnya, pada radius kurang 1 km, dijumpai sisa/bekas bangunan suci lain yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai candi Urung,Candi Buto dan candi Gemali. Semuanya menempati puncak-puncak bukit yang langsung berhadapan dengan lembah Boyolangu disebelah utaranya.
Untuk kepentingan manusia masa kini, pengenalan akan pemahaman tentang keguagungan sang pencipta memang dapat dipupuk dari situs dan lingkungan alam di sana. Mencintai keindahan alam yang terdampar di sekitar Candi Dadi beserta kelompok candi lain didekatnya, juga sejalan dengan upaya mencintai karya budaya nenek moyangnya, dan itu semua adalah juga sama untuk mencintai Penciptanya.


Pemandangan di sekitar candi

sumuran di tengah candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi