Tampilkan postingan dengan label tulungagung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulungagung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juni 2014

Pantai sidem


 
Selain pantai popoh di jawa timur, anda bisa mengunjungi pantai sidem. Letaknya di sebelah barat pantai popoh, dan terdiri dari perkampungan yang bisa di bilang padat penduduk. Letak pastinya adalah di Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Lokasinya mudah dijangkau, kondisi jalan beraspal dan halus. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Akan lebih mengasyikkan lagi bila Anda mau berjalan kaki. Sepanjang jalan pengunjung bisa melihat pemandangan pohon jati yang sejuk. Dari atas bukit terlihat birunya air laut serta perahu-perahu nelayan yang mencari ikan. Kondisi udara di pantai sidem sangat sejuk, karena tumbuhh beberapa pepohonan di sekitar pantai.
Harga tiket masuk hanya Rp 3000 per orang.Kalau menggunakan kendaraan menambah biaya Rp 1.000 untuk sepeda motor, Rp 2.000 untuk mobil dan Rp 2.500 untuk bus.Selain bermata pencarian nelayan, anda juga akan menemukan industri rumah tangga dengan beragam produk. Seperti ikan asin maupun terasi yang telah dikemas rapi serta siap untuk dibawa pulang sebagai buah tangan. Jangan lupa untuk mencicipi kuliner khas di pantai ini, berupa rujak.
Di Pantai Sidem ini pula lah kita mendapati pemandangan bagaimana dua arus air bertemu, yakni antara air sungai dan air laut. Pertemuan air ini mengisyaratkan adanya perbedaan nyata antara warna air sungai dan air laut.










Kamis, 05 Juni 2014

Pantai Popoh





Pantai Popoh, adalah salah satu obyek wisata pantai yang terletak di Tulungagung, tepatnya di pesisir Samudra Hindia, 30 Km sebelah selatan kota Tulungagung.
Pantai yang langsung berhadapan langsung dengan laut Bebas Samudera Hindia ini memang banyak menawarkan keeksotikan keindahan panorama pantai, baik wisata bahari maupun keindahan deburan ombaknya.

Pantai Popoh merupakan salah satu obyek wisata andalan daerah Tulungagung, berbagai acara selalu diadakan di kawasan wisata ini baik itu musik ataupun acara-acara lain. Hampir setiap hari libur dan hari besar kawasan wisata ini selalu dipadati pengunjung, baik yang berasal dari sekitar Tulungagung maupun luar Tulungagung bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar negeri.

Pantai Popoh berbentuk teluk dan berada di ujung timur pegunungan Kidul. Air yang cukup tenang, angin laut yang tidak begitu kuat, dan keindahan gunung disekitar teluk telah menjadi daya tarik utama pantai ini.

















Goa pasir

 Mendengar nama Goa Pasir pasti yang terbayang adalah sebuah goa yang terletak di daratan berpasir dan gersang atau mungkin kita akan membayangkan sebuah goa yang di dalamnya banyak pasirnya. Tetapi setelah datang langsung ke lokasi, bayangan itu tidak akan pernah terbukti sama sekali. Kenapa namanya Goa Pasir?? Karena goa tersebut terletak di Dusun Pasir. lebih tepatnya Dusun Pasir, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.  Jaraknya sekitar 10 Km dari pusat kota.  Untuk mengunjunginya cukup mudah,dari kota Tulungagung ikuti jalan raya ke arah Blitar lalu ikuti penunjuk arah atau tanya pada penduduk. Goa Pasir merupakan goa buatan yang dibuat dengan melubangi lereng bukit.
Ada pelataran cukup luas sesaat memasuki lokasi. Untuk sampai ke goa kita harus melewati jalan setapak yang penuh batu- batu besar dengan kondisi jalan yang sedikit terjal, lalu kita harus merayap di bebatuan besar ketika mendekati lokasi goa.
Lokasi Goa Pasir ini banyak menyimpan berbagai benda purbakala (Patung, berbagai pahatan/relief yang ada di antara bebatuan, makam kuno dan goa) yang dapat dijadikan obyek wisata sejarah maupun cagar budaya. Beberapa artefak dan arca nampak tersisadi pojok pelataran. Di batu-batu besar,  terpahat beberapa relief yang sepertinya tidak tuntas dikerjakan.
Di lokasi ini terdapat dua goa, dari Buku yang berjudul TABUTA (Tapak Budaya Tulungagung) karangan Drs. M Dwi Cahyono, M.Hum dijelaskan bahwa Goa Pasir atau yang dinamakan Situs Karsyan, berbentuk bangun landam kuda serta tinggalan arkeologi yang berupa goa pertapaan yang berisi banyak relief (goa I) dengan ukuran goa 260 x 175 cm dan kedalaman 218 cm dengan ketinggian 200M di atas permukaan tanah tanpa disertai dengan tangga batu. Dan goa II yang tidak ber-relief dengan posisi tebing bawah dengan keadaan mulut lebih besar dari goa I berukuran 305 x 255 x 190 cm dan kedalaman 255 cm posisi goa menghadap ke barat. Dalam buku TABUTA juga dijelaskan bahwa sesuai dengan sebutannya yaitu “Situs Goa Pasir“ dan fungsinya sebagai karsyan maka kedua Goa tersebut waktu itu difungsikan sebagai pertapaan. Hal tersebut didukung dengan banyaknya temuan lain yang tersebar di area goa serta sebagian yang tertimbun tanah, hal ini selaras dengan esoteris dari Hindu sekte Siwa Shidanta yang lazim di jalankan di lingkungan karsyan yang sifatnya tertutup.
Temuan lain di situs Goa Pasir berupa sisa struktur bangunan, berbangun bujur sangkar dengan ukuran sisi 700 cm berupa tatanan batu bata yang semula diperkirakan sebagai pondasi suatu asrama (rumah tinggal semi permanen bagi para Resi) dan hingga kini yang tersisa dari bangunan ini adalah bagian bangunan yang tampak di permukaan tanah yang berada di sisi selatan dan barat. Selain itu di area situs juga terdapat arca-arca lepas batu adesit, sedangkan arca yang tersisa berupa dua buah arca penjaga pintu (dwara pala) berbeda ukuran dan detail bentuknya, fragmen arca Ganesha (Putra kedua dari Dewa siwa dan parwati/uma) peninggalan kerajaan Majapahit dan ini di indikatori berupa pahatan teratai yang tumbuh dari vas bunga yang dipahat pada sandaran kanan kiri kaki arca. [1]
Berdasarkan catatan penelitian N.J. Krom dan Verbeek di situs Goa pasir pernah ditemukan arca batu yang sandarannya dipahatkan konogram saka 1325 (1403 M) dan 1224 S (1302 M) tahun 1302-1403 M yang berarti dari masa Majapahit, juga pernah ditemukan kronogram yang bertarikh Saka 1228 (1306 M), menunjuk pada zaman Majapahit oleh karena itu situs Karsyan Goa pasir diperkirakan sebuah peninggalan zaman Majapahit. [1]

sumber:tribunjatim.com
Pada bulan Mei 2013 lalu tim arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya dari Trowulan, Mojokerto, telah menyelesaikan penggalian situs purbakala Goa Pasir. Penggalian tersebut dipimpin arkeolog Nugroho Harjolukito. Mereka mendokumentasikan macam-macam artefak dari kompleks situs seluas kira-kira 1 hektare itu. Situs Goa Pasir ditemukan masyarakat sejak era kolonial Belanda tetapi hingga kini sebagian besar masih terpendam. Menurut ketua tim penggalian situs ini terpendam karena longsoran dari gunung. Situs Goa Pasir terletak di lereng perbukitan dekat kawasan Wajak, penghasil marmer Tulungagung yang terkenal. Pepohonan jati yang tak rapat di lereng bukit itu tak sanggup menahan longsoran tanah selama bertahun-tahun. Penggalian sebetulnya belum selesai sepenuhnya karena masih banyak area situs yang tertimbun tanah. Tapi hasil ekskavasi kali ini sudah menunjukkan adanya pemukiman yang bersifat religius di masa lalu, hal itulah yang menjadikan alasan dari tim untuk mengakhiri penggalian di situs Goa Pasir.
Relief Goa Pasir
Sesuatu yang menarik di dalam ceruk Goa Pasir adalah terdapat tiga bagian relief . Di bagian tengah ceruk tampak relief seorang pria yang sepertinya sosok seorang raja, bangsawan atau kesatria dengan seorang wanita. Di sisi kanan dan kiri  tampak relief pria bersorban yg di kelilingi para wanita, wanita-wanita itu menggoda pria bersorban dengan kemolekan tubuhnya. Pada bagian ini, biasanya anak-anak muda yang bertamasya ke goa tersebut lazim menyebutnya dengan relief mesum atau relief erotis. Sampai saat ini saya belum mendapatkan literatur yang menafsirkan gambar relief tersebut.
Mengingat tempat tersebut dulunya digunakan sebagai pertapaan yang merupakan sarana meditasi untuk mengasingkan diri dari godaan duniawi guna mencapai kemuliaan, maka menurut saya relief tersebut lebih mengarah pada pesan moral. Menggambarkan bahwa kehidupan di dunia penuh dengan godaan (disimbolkan dengan relief pria bersorban yang digoda dengan kemolekan tubuh wanita). Ketika manusia ingin mencapai kemuliaan maka akan banyak godaan-godaan duniawi yang indah-indah dan akan menjerumuskannya, jika manusia mampu melawan godaan-godaan tersebut maka kemuliaan lah yang di dapatnya.




Selasa, 03 Juni 2014

Candi Dadi

 Candi Dadi berada pada ketinggian 360 m dpl, berada di tengah areal kehutanan dilingkungan RPH Kalidawir. Candi ini masuk wilayah Dusun Mojo, Desa Wajak Kidul. Letaknya yang berada di puncak bukit membuat kita sedikit mengeluarkan tenaga untuk menikmati keindahannya karena kita wajib mendaki dengan menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya adalah hutan dan lahan yang ditanami palawija oleh penduduk sekitar bukit, selama kurang lebih 50 menit dari desa Wajak Kidul ke arah selatan. Sesampainya di puncak bukit kita akan menjumpai kekokohan Candi Dadi dan yang tak kalah menariknya adalah kita bisa menikmati keindahan Kecamatan Boyolangu dan sekitarnya dari ketinggian. 
Candi ini merupakan candi tunggal yang tidak memiliki tangga termasuk hiasan maupun arca. Candi tersebut berdiri tegak pada puncak sebuah bukit di lingkungan Pegunungan Walikukun. Denah Candi berbentuk bujursangkar dengan ukuran panjang 14m lebar 14m dan tinggai 6.5 m. Bangunan berbahan batuan andesit itu terdiri atas batur dan kaki candi. Berbatur tinggi dan berpenampilan setiap sisinya. Bagian atas batur merupakan kaki candi yang berdenah segi delapan, pada permukaan tampak bekas tembok berpenampang bulat yang kemungkinan berfungsi sebagai sumuran. Diameter sumuran adalah 3.35m dengan kedalaman 3m.
Latar Belakang Sejarah¹
Berakhirnya kekuasaan HayamWuruk juga merupakan masa suram bagi kehidupan Agama Hindu. Pertikaian politik yang terjadi di lingkungan kraton memunculkan kekacauan, seiring dengan munculnya agama islam. Dalam kondisi yang dermikian, penganut Hindu Budha yang berupaya menjauhkan diri dari pertikaian yang ada melakukan pengasingan agar tetap dapat menjalankan kepercayaan/ tradisi yang dimilikinya. Sebagaian besar memilih puncak- puncak bukit atau setidaknya kawasan yang tinggi dan sulit dijangkau. Biasanya tempat baru yang mereka pilih merupakan tempat yang jauh dari pusat keramaian maupun pusat Pemerintahan.
Candi Dadi adalah salah satu dari karya arsitektural masa itu sekitar akhir abad XIV hingga akhir abad XV.
Latar Belakang Budaya¹
Selain sebagai tempat pemujaan dapat diduga bahwa candi tersebut dahulu berfungsi juga sebagai tempat pengabuan, pembakaran jenazah tokoh penguasa. Sifat keagamaan yang melatar belakangi pendiriannya secara tepat belum diketahui. Hal tersebut disebabkan tidak ditemukannya data yang mampu menunjuang upaya pengenalannya secara langsung. Meskipundemikian sumuran yang terdapat di bagian tengah bangunan tersebut dapat digunakan sebagai petunjuk dari karakter sebuah pencandian berlatar keagamaan hindu. Keletakan pada puncak sebuah bukit yang cukup sulit untuk dijangkau, dihubungkan dengan anggapan masyarakat Indonesia kuno bahwa puncak gunung merupakan tanah suci. Sebagai sebuah tradisi yang berlangsung sejak jaman prasejarah yang percaya bahwa arwah paraluluhur berada disana, masyarakat penganut budaya hindu juga memanfaatkan puncak-puncak gunung untuk meletakkan bangunan sucinya. Hal itu berkaitan dengan mitos keagamaan dengan mitos keagamaan Hindu yang menganggap bahwa tempat bersemayamnya para dewa adalah tempat yang tinggi. Bila tidak terdapat sebuah puncak gunung atau bukit, merekamenggunakan teras berundak yang secara fisik dapat menggambarkan keletakanya yang lebih tinggi, atau dapat pula dilakukan dengan mengadakan pembagian halaman. Halaman terakhir adalah tempat, yang dianggap paling tinggi dan di tempat itulah diletakkan sesuatu yang dianggap paling megah atau paling besar sebagai cerminan kahyangan.
Berkenaan dengan faham yang demikian itu, lingkungan alam disekitar Candi Dadi memang sangat mendukung. Berada pada puncang bukit yang mengahadap kelembah utara ,karya arsitektur tersebut betul – betul menggambarkan kemegahan. Sesuatu yang memang patut dipersembahkan kepada sesembahanya. Tidak mengherankan bila disekitarnya, pada radius kurang 1 km, dijumpai sisa/bekas bangunan suci lain yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai candi Urung,Candi Buto dan candi Gemali. Semuanya menempati puncak-puncak bukit yang langsung berhadapan dengan lembah Boyolangu disebelah utaranya.
Untuk kepentingan manusia masa kini, pengenalan akan pemahaman tentang keguagungan sang pencipta memang dapat dipupuk dari situs dan lingkungan alam di sana. Mencintai keindahan alam yang terdampar di sekitar Candi Dadi beserta kelompok candi lain didekatnya, juga sejalan dengan upaya mencintai karya budaya nenek moyangnya, dan itu semua adalah juga sama untuk mencintai Penciptanya.


Pemandangan di sekitar candi

sumuran di tengah candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Pemandangan di sekitar candi

Goa Selomangleng

 Bagi para pembaca diharapkan tidak rancu dengan pembahasan kita kali.
Kita tidak akan membahas Goa selomangleng yang menjadi ikon wisata kota kediri disini.
Masih sangat dekat dengan beberapa tempat wisata di Tulungagung , yaitu di kawasan Boyolangu Tulungagung ,Kita kali ini akan membahas mengenai Goa Selomangleng di tulungagung.
Untuk kali ini kami sebagian besar mengutip artikel ini dari blog tetangga dan juga sumber yang ada.
Tulungagung sendiri tidak hanya memiliki wisata pantai nya dan juga kuliner dan warung kopinya tapi kita juga memiliki tempat wisata berupa Goa yang sangat jarang ditemui di Tulungagung.
Wisata Goa memang bukan hal yang umum bagi masyarakat Tulungagung , namun karena alasan ini lah Goa selomangleng menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat menarik terutama bagi para pemuda di Tulungagung.
kadang kala karena kesamaan nama dengan goa di Kediri , banyak orang goa yang dimaksud adalah Goa selomangleng kediri padahal kita juga punya goa yang sama cuma bedanya Goa di tulungagung perlu lebih di kenalkan saja.
Berikut adalah informasi yang kami dapat,silahkan dijadikan referensi destinasi wisata jika mampir ke Tulungagung.

Kompleks Goa Selomangleng yang menempati areal kehutanan di lingkungan BKPH Kalidawir, atau tepatnya di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, merupakan lereng Jurang Sanggrahan yang cukup terjal. Berbatasan dengan kebun milik penduduk, kompleks ini dapat dibedakan atas dua bagian, yakni bagian yang sekarang agak datar yang berada di bagian bawah, serta bagian yang terjal di bagian atas.
Di bagian pertama itulah terdapat dua buah goa, sedangkan sebuah candi terdapat di bagian kedua. Ketiga kekunoan tersebut merupakan hasil pengerjaan pada bongkahan batu besar, memenuhi hampir seluruh sisa bagian atas batu.
Goa pertama berada di bagian tanah yang relatif datar, merupakan hasil pengerukan terhadap sebuah bongkah batu besar (monolit) dengan bentuk mulut persegi empat sebanyak dua buah. Gua pertama dihiasi dengan relief, sedangkan goa kedua tidak memilki relief. Lahan yang ditempati bongkahan batu bergoa tersebut meliputi areal seluas 29,5 m x 26 m.
Ukuran bagian dalam goa pertama adalah: panjang 360 cm, lebar 175 cm, dan dalam ceruk 380 cm. Mulut goa mengahadap ke arah arah barat.
Relief dipahatkan pada panel di dinding sisi timur dan utara.

Banyak sekali terdapat Relief yang terpahat di dinding Goa yang menjelaskan tentang cerita kuno pewayangan jaman dulu.
Hiasan itu menggambarkan bagian dari cerita Arjunawiwaha, yakni ketika Indra memerintahkan bidadarinya untuk menggoda Arjuna di Gunung Indrakila.
Digambarkan pula adegan ketika bidadari menuruni awan dari kahyangan ke bumi. Gua kedua terletak di bagian selatan dari goa pertama, pada bongkah yang sama, tetapi pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan goa pertama. Goa yang di bagian selatan ini menghadap ke selatan dan tidak memiliki hiasan apapun di dalamnya. Ukurannya panjang 360 cm dan lebar 200 cm
Beberapa meter di sebelah timur goa tersebut, pada tempat yang lebih tinggi terdapat bongkahan batu yang dipahatkan kaki dan batur candi berdenah persegi empat dengan ukuran panjang 490 cm dan lebar 475 cm. Dinding batur candi tersebut dihiasi palang Yunani berbingkai bujursangkar.

Banyak hal unik yang tergambar dari relief itu dan masih belum diketahui apa hubungan satu sama lain nya.
Diduga kuat kalau situs tersebut dibuat dan digunakan pada akhir abad X. Sebaliknya, berdasarkan cara pemahatan dan penataan rambut tokoh-tokohnya, Satyawati Suleiman, berpendapat bahwa goa tersebut berasal dari masa awal Majapahit.

Untuk mengetahui lebih mendalam tidak ada salahnya bagi anda pecinta seni dan budaya serta sejarah untuk mampir melihat sekaligus berwisata ke Goa selomangleng Di Tulungagung ini.
banyak sekali hal positif yang dapat kita peroleh dari wisata di Goa ini.


relief goa selomangkleng

relief goa selomangkleng

relief goa selomangkleng

relief goa selomangkleng

relief goa selomangkleng

relief goa selomangkleng

relief goa selomangkleng


Pemandangan di sekitar Goa selomangkleng



Pemandangan di sekitar Goa selomangkleng

Pemandangan di sekitar Goa selomangkleng

Pemandangan di sekitar Goa selomangkleng

relief goa selomangkleng