Tampilkan postingan dengan label candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label candi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2014

Candi Singosari


Candi Singosari terletak didesa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Ditemukan pada sekitar awal abad 18 (tahun 1800-1850) dengan pemberian nama/sebutan Candi Menara oleh orang Belanda. Mungkin pemberian nama ini disebabkan bentuknya yang menyerupai menara. Sempat juga diberi nama Candi Cella oleh seorang ahli purbakala bangsa Eropa dengan berpedoman adanya empat buah celah pada dinding-dinidng dibagian tubuhnya. Juga menurut laporan dari W. Van Schmid yang mengunjungi candi ini pada tahun 1856, penduduk setempat menamakan Candi Cungkup. Akhirnya nama yang hingga sekarang dipakai adalah Candi Singosari karena letaknya di Singosari, adapula sebagian orang menyebutnya dengan Candi Renggo karena letaknya didesa Candirenggo.

Menurut laporan tertulis dari para pengunjung Candi Singosari dari tahun 1803 sampai 1939, dikatakan bahwa Candi Singosari merupakan kompleks percandian yang luas. Didalam kompleks tersebut didapatkan tujuh buah bangunan candi yang sudah runtuh dan banyak arca berserakan disana-sini. Salah satu dari tujuh candi yang dapat diselematkan dari kemusnahan adalah candi yang sekarang kita sebut Candi Singosari. Adapun arca-arcanya banyak yang dibawa ke Belanda, sedangkan arca-arca yang saat ini berada dihalaman Candi Singosari sekarang ini, berasal dari candi-candi yang sudah musnah itu.

Bentuk bangunan Candi Singosari sendiri bisa dibilang istimewa, karena candi itu seolah-olah mempunyai dua tingkatan. Seharusnya bilik-bilik candi berada pada bagian badan candi, pada Candi Singosari justru terdapat pada kaki candi. Bilik-bilik tersebut pada awalnya juga terdapat arca didalamnya yakni disebelah utara berisi arca Durgamahisasuramardhini, sebelah timur berisi arca Ganesha dan dibagian selatan terdapat arca Resi Guru yang biasa terkenal dengan sebutan Resi Agastya. Namun saat ini hanya tinggal arca Resi Agastya saja, sedangkan arca lainnya telah dibawa ke Leidan - Belanda. Alasan mengapa arca resi Agastya tidak dibawa serta ke Belanda adalah mungkin dikarenakan kondisinya yang sudah rusak cukup parah, sehingga tidak layak dibawa sebagai hadiah kepada penguasa negeri belanda pada saat itu.




Arca Dewi Parwati dengan kepala "aneh"-nya. Bagian kepala asli sebenarnya telah hilang dan tidak diketemukan

Hal lain yang menarik untuk diamati pada Candi Singosari ini adalah hiasan candi. Umumnya bangunan candi dihias dengan hiasan yang rata pada seluruh badan atau bagian candi. Pada Candi Singosari kita tidak mendapatkan hal yang demikian. Hiasan Candi Singosari tidak seluruhnya diselesaikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Candi Singosari dahulu belum selesai dikerjakan tapi kemudian ditinggalkan. Sebab-sebab ditinggalkan tersebut dihubungkan dengan dengan adanya peperangan, yaitu serangan dari raja Jayakatwang dari kerajaan Gelang-gelang terhadap Raja Kertanegara kerajaan Singhasari yang terjadi pada sekitar tahun 1292. Serangan raja Jayakatwang tersebut dapat menghancurkan kerajaan Singhasari. Raja Kertanegara beserta pengikutnya dibunuh. Diduga karena masa kehancuran (pralaya) kerajaan Singhasari itulah, maka Candi Singosari tidak terselesaikan dan akhirnya terbengkalai.

Ketidak selesaian bangunan candi ini bermanfaat juga bagi kita yang ingin mengetahui teknik pembuatan ornamen (hiasan) candi. Tampak bahwa hiasan itu dikerjakan dari atas ke bawah. Bagian atas dikerjakan dengan sempurna, bagian tubuh candi (tengah) sebagian sudah selesai sedangkan bagian bawah sama sekali belum diselesaikan.

Dihalaman Candi Singosari masih terdapat beberapa arca yang tersisa, beberapa diantaranya berupa tubuh dewa/dewi meskipun bisa dibilang tidak utuh lagi. Bahkan terdapat satu arca Dewi Parwati yang memiliki bagian kepala yang terlihat "aneh". nampaknya bagian tersebut bukan merupakan kepala arca yang sebenarnya. Karena kepala arca yang sebenarnya diduga putus dan tidak ditemukan kembali.

Berkunjung ke Candi Singosari ini sambil memegang buku panduan wisata yang bercerita tentang sejarah candi Singosari, sempat menimbulkan kesedihan dihati saya. Betapa tidak, dibeberapa bagian halaman buku tersebut terpampang jelas foto-foto arca yang telah dibawa ke negeri Belanda, lengkap beserta penjelasan posisi/sikap beserta atribut-atibut yang dikenakan oleh tokoh arca tersebut. Foto-foto yang ada menunjukkan bahwa apa yang mereka (penjajah) bawa kenegeri mereka, memang merupakan arca yang masih utuh dengan tingkat seni yang bisa dibanggakan. Suatu hal yang bisa dibilang "perampokan" oleh bangsa Belanda terhadap seni-budaya bangsa Indonesia..



















 

Senin, 28 Juli 2014

SITUS LEMAH DUKUR ( tanah tinggi)

 





Situs ini terletak di sebelah barat Candi Pamotan,atau lebih tepatnya di desa Pamotan kecamatan Porong,Sidoarjo dengan koordinat 7°31'40.9"S 112°41'04.1"E.di tengah – tengah are persawan penduduk yang luas.
Sejarah dan asal – usul ` Lemah Dukur ` sampai saat ini belum di ketahui dengan pasti dan belum ada pihak Bp3, Arkeolog yang datang untuk meneliti situs tersebut,
Bentuk situs tersebut menyerupai persegi ,yang di tengahnya terdapat pohon ``PO `` mangga. Dahulunya juga terdapat pohon kayu putih.
Jalan untuk menuju situs cukup sulit, karena harus melewati galangan dim sawah ( jalan setapak ) yang kalau tidak hati-hati bisa rusak.

Diarea persawahan ini juga banyak terdapat reruntuhan bangunan kuno
Tetapi meski begitu juga ada turis yang pernah datang ke situs itu, dan katanya saat mengambil gambar di situs itu banyak yang tidak bisa di buka gambarnya.
Bentuk situs lemah Dukur saat ini jauh dari kata layak, artinya situs itu banyak yang rusak ,batu – batanya banyak yang berserakan di sekelilingnya.
Karena pihak Bp3 tidak ada perhatian. Situs itu menjadi tidak terawat dan bahkan sering di gunakan tempat bermain anak – anak kecil. Di sebelah barat agak jauh dari situs terdapat juga makam kuno yang di percaya sebagai orang yang membabad Desa Pamotan







SITUS PENINGGALAN SEJARAH YANG TERBENGKALAI


Berawal dari pencarian situs candi! Watu Tulis di desa Watu Tulis kecamatan Prambon,Kabupaten sidoarjo
dari arah krian kami melewati sebuah gang di dekat komplek pemakaman cina di dekat jembatan,di gang itu tertulis Ponpes Salafiyah tarbiyah,dusun Sekelor desa Watutulis,100 meter memasuki gang kami menemukan sebuah pertigaan lalu kami masuk karena kami curiga ada rerimbunan pohon mangga,kami kira adalah lokasi candi watu tulis,setelah kami datangi ternyata adalah sebuah situs sejarah.
di lokasi yang kami datangi terdapat batu bata kuno yang berserakan dan sebagian lagi ada yg di tumpuk dan ada juga yang berbentuk pondasi,luas area lokasi ini kira kira 20 x 40 meter,di lihat dari struktur bangunanya yang terbuat dari batu bata ini adalah sebuah candi peninggalan majapahit,di tempat ini di temukan bekas pembakaran hio kemungkinan tempat ini masih di gunakan untuk berdoa.
sayang tidak ada pagar pembatas atau keterangan perlindungan situs cagar budaya
berhubung saat itu tidak ada yang bisa kami tanyai mengenai keterangan situs ini maka kami lanjutkan perjalanan ke candi watu tulis 








Candi watu tulis

 
Candi watu tulis terletak Di desa Watutulis Kecamatan Prambon Kabupaten Sidoarjo dengan koordinat 7°26'12"S 112°34'15"E. nama candi ini di ambil dari nama candi ini berada yaitu desa watu tulis ,akan tetapi kondisinya masih tampak seperti tumpukan batu bata dan batu andesit, belum ada pemugaran atau tindak lanjut dari dinas purbakala.

Disebelah candi terdapat sumur yang di dalamnya terdapat batu bata kuno

Menurut keterangan dari penjaga Candi Watu Tulis yaitu Bapak Buadi "Candi ini merupakan peninggalan pada zaman Kerajaan Kahuripan dengan rajanya Airlangga, jadi sejarah ini menunjukkan bahwa Candi ini dibuat sebelum kerajaan Mojopahit Berdiri" kata Buadi yang sudah 14 tahun lamanya menjaga dan merawat Candi Watu Tulis tersebut...

Mengigat Candi tersebut terbuat dari batu ini menandakan Candi tersebut dibuat jauh sebelum kerajaan Mojopahit berdiri, karena cirikhas peninggalan kerajaan Mojopahit adalah terbuat dari batu bata.









Candi Jolotundo


Salah satu cara untuk menghilangkan stress karena rutinitas pekerjaan adalah dengan berendam di pemandian dari sumber mata air alami yang tentunya lebih segar dan lebih seru. Salah satu tempat pemandian dengan mata air alami yang kami rekomendasikan adalah Petirtaan Jolotundo di Mojokerto Jawa Timur.

Menurut legenda, kolam pemandian ini disebut ‘kolam cinta’ milik Udhayana, Raja Bali. Lokasinya tak terlalu jauh dari kota Surabaya, kira kira 50 km ke arah selatan. Jarak ini biasanya ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi.



Petirtaan Jolotundo terletak di Desa Seloliman, dataran tinggi Trawas, Kabupaten Mojokerto. Pemandian ini terletak di kaki Gunung Bekal. Sepanjang perjalanan, Anda akan dimanjakan dengan semilir angin yang sejuk dari balik pepohonan pinus dan cemara yang banyak tumpuh di sisi jalan.



Anda juga bisa melihat hamparan sawah yang berundak dari kejauhan. Sesampainya di depan pemandian, Anda akan disapa dengan susunan batu bekas candi yang tersusun rapi. Rasanya seperti berada di jaman kerajaan zaman dulu.

Petirtaan Jolotundo ini katanya ditak pernah kering walaupun musim kemarau panjang. Dengan memiliki kandungan mineral yang tinggi, membuat air dalam kolam Jolotundo dinyatakan sebagai air terbaik di dunia setelah zam-zam.