Tampilkan postingan dengan label situs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label situs. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Juli 2014

Situs Terung


Sebuah situs bersejarah berupa bangunan batu bata yang tersusun rapi kebawah dengan bagian atas membentuk huruf L ditemukan di Sidoarjo, Jawa Timur. Situs batu itu ditemukan Mashuri, warga desa Terung, Kecamatan Krian, Sidoarjo dengan koordinat: 7°23'42"S 112°37'12"E

Pria ini tidak menyangka jika di tanah pekarangannya yang ditumbuhi pohon bambu rimbun (barongan) itu terkubur sebuah situs bersejarah.

Situs yang ditemukan menyerupai bangunan batu bata yang tersusun rapih kebawah dengan bagian atas membentuk huruf L dengan kedalaman 4 Meter dibawah permukaan tanah.

Agar bisa terlihat jelas bentuk bangunannya, beberapa warga berusaha menguras air di kubangan tanah tempat ditemukannya situs tersebut.

Melihat kontur dan bentuk Batu Bata yang besar, diduga kuat situs tersebut diperkirakan peninggalan jaman Mojopahit. Karena kebanyakan situs peninggalan jaman Mojopahit terbuat dari batu bata sejenis.

Apalagi di sekitar penemuan situs itu juga ditemukan beberapa situs bersejarah juga. Diantaranya, Dua sumur tua dan Makam Putri Ayu yang konon merupakan puteri dari Raden Husein, Adipati Terung, yang dalam sejarahnya merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Mojopahit.

Mashuri mengatakan, penemuan situs di pekarangan rumahnya itu berawal setelah dirinya mendapat petunjuk melalui mimpi yang dialaminya berkali-kali. Setelah melalui
diskusi dan pemikiran yang matang, Mashuri menggali tanah bersama beberapa sahabatnya. Termasuk Jansen Yasin, seniman pemerhati sejarah Sidoarjo.

“Awalnya saya mendapat mimpi, tetapi kok berkali-kali. Setelah saya rundingkan dengan teman-teman lalu saya gali bersama warga.”terang Mashuri.

Menurut Jansen Yasin, situs bersejarah tersebut masih memiliki 15 susunan Batu Bata kebawah. Karenanya harus dilakukan penggalian yang lebih mendalam untuk mengetahui bentuk seutuhnya.

Jansen sendiri juga melakukan penelitian terhadap keberadaan situs baru itu bersama situs-situs sejarah di sekelilingnya sejak Dua tahun lalu.

“Sejak Dua tahun lalu saya sudah melakukan penelitian disini.”ucapnya, Sabtu (7/7/2012).

Konon, desa Terung Wetan merupakan bekas kadipaten Terung yang menjadi daerah kekuasaan kerajaan Mojopahit. Kadipaten Terung ini diperintah oleh Raden Husein, adik Raden Patah yang menjadi raja di Demak.

Raden Husein sendiri terkenal dengan sebutan Adipati Terung dan memiliki puteri yang dimakamkan di sebelah utara situs yang baru ditemukan tersebut.

Kadipaten Terung diperkirakan musnah setelah terkena aliran lahar dingin letusan gunung ratusan tahun silam. Hal itu terlihat dari pasir yang menutupi dan berada di sekitar situs.

Kini warga setempat ingin meyerahkan sepenuhya terhadap penanganan situs bersejarah tersebut kepada pihak terkait. Mereka berharap, pemerintah mau menggali dan melestarikan situs tersebut. Sehingga asal-usul desa Terung Wetan yang konon dulunya bernama kadipaten Terung bisa dibuktikan dalam sejarah.





SITUS LEMAH DUKUR ( tanah tinggi)

 





Situs ini terletak di sebelah barat Candi Pamotan,atau lebih tepatnya di desa Pamotan kecamatan Porong,Sidoarjo dengan koordinat 7°31'40.9"S 112°41'04.1"E.di tengah – tengah are persawan penduduk yang luas.
Sejarah dan asal – usul ` Lemah Dukur ` sampai saat ini belum di ketahui dengan pasti dan belum ada pihak Bp3, Arkeolog yang datang untuk meneliti situs tersebut,
Bentuk situs tersebut menyerupai persegi ,yang di tengahnya terdapat pohon ``PO `` mangga. Dahulunya juga terdapat pohon kayu putih.
Jalan untuk menuju situs cukup sulit, karena harus melewati galangan dim sawah ( jalan setapak ) yang kalau tidak hati-hati bisa rusak.

Diarea persawahan ini juga banyak terdapat reruntuhan bangunan kuno
Tetapi meski begitu juga ada turis yang pernah datang ke situs itu, dan katanya saat mengambil gambar di situs itu banyak yang tidak bisa di buka gambarnya.
Bentuk situs lemah Dukur saat ini jauh dari kata layak, artinya situs itu banyak yang rusak ,batu – batanya banyak yang berserakan di sekelilingnya.
Karena pihak Bp3 tidak ada perhatian. Situs itu menjadi tidak terawat dan bahkan sering di gunakan tempat bermain anak – anak kecil. Di sebelah barat agak jauh dari situs terdapat juga makam kuno yang di percaya sebagai orang yang membabad Desa Pamotan







Situs Makam Mendhek



Situs Makam Mendhek terletak di Desa Kutogirang, kecamatan Ngoro. Situs tersebut dipercaya sebagai makam seorang ulama yang hidup di j aman Moj opahit yang bernama eyang surgi atau biasa disebut Mbah Mendhek. Di makam mbah Mendhek terdapat prasasti dalam dua bahasa, yaitu bahasa arab dan bahasa jawa. Lokasi situs ini berdekatan dengan beberapa situs lainya, diantaranya Candi Bangkai, dan Candi Jedong. Apabila dilanjutkan menuju arah selatan menuju Candi Jolotundo.




Situs Umpak Jabung











Situs Umpak Jabung merupakan salah satu peninggalan sejarah pada masa kerajaan Majapahit. Yang diperkirakan dibuat dan didirikan pada sekitar abad ke XIII – XIV Masehi. Maka peninggalan sejarah ini sezaman dengan temuan-temuan candi di sekitar Trowulan yang juga sezaman dengan kerajaan Majapahit. Terletak di Desa Lebakjabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto dengan koordinat 7° 36' 51.90" S 112° 24' 46.60" E.
Sampai saat ini belum ditemukan bukti tertulis ataupun prasasti yang dapat menceritakan Situs Umpak Jabung. Berkaitan dengan sejarahnya maupun fungsi dan kegunaannya. Namun dapat diperkirakan bahwa batu-batu umpak tersebut tidaklah sekedar dibuat tanpa alasan yang jelas. Sehingga batu umpak pada masa itu merupakan salah satu benda penting di sekitar kehidupan masyarakat masa kerajaan Majapahit. Hal yang mendukung bahwa batu umpak penting bagi kehidupan masyarakat Majapahit adalah letaknya yang tidak jauh dari pusat kerajaan. Situs Umpak Jabung merupakan salah satu tempat yang menjadi batas wilayah pusat kota Majapahit.
Ada berbagai teori dan pendapat tentang fungsi dan kegunaan batu umpak. Salah satunya adalah digunakan sebagai dasar pondasi untuk rumah pada masyarakat Majapahit. Kayu-kayu penyangga atap bangunan rumah diletakkan di atas batu umpak tersebut. Dari teori ini, dapat dikatakan bahwa Situs Umpak Jabung merupakan salah satu situs pemukiman dan perumahan kuno masyarakat Majapahit.
Bentuk batu umpak ini bersisi atau bersegi delapan dengan ukuran yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Jumlahnya di Situs Umpak Jabung ada lebih dari 30 buah. Di sekitar umpak-umpak itu terdapat tatanan dan pecahan batu bata merah dengan ukuran yang besar. Berserakan di sekitar batu umpak. Bahkan dibeberapa batu bata terdapat semacam hiasan berbentuk lingkaran.
Terlepas dari bukti tertulisnya yang belum ditemukan, sehingga sangat sulit ditentukan sejarahnya. Namun Situs Umpak Jabung adalah salah satu bukti peradaban kuno yang menunjukkan kepada generasi sekarang akan kemegahan masa lampau bangsa Indonesia.





Situs Alun-Alun Umpak Batu Sentonorejo


Situs Umpak Batu Sentonorejo terletak di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sekitar 100 meter sebelah barat Candi Kedaton. Fisik situs berupa jajaran umpak batu yang tersusun rapi. Situs ini ditemukan pada tahun 1982, diduga posisinya tidak mengalami perubahan.
Menurut penafsiran arkeologis, situs Umpak Sentonorejo kemungkinan adalah bekas pondasi sebuah bangunan yang menjadi satu kesatuan fungsi dengan Candi Kedaton dan Situs Lantai Segi Enam. Belum dapat diketahui apa fungsi bangunan ini dan bagaimana keterkaitannya dengan Candi Kedaton dan Situs Lantai Segi Enam.









Kamis, 10 Juli 2014

Situs Yoni Klinterejo



Situs Yoni Klinterejo terletak agak jauh di sebelah uta­ra Trowulan dan sudah masuk wilayah Kecamatan Sooko, Mojokerto dengan koordinat :7°30'55"S 112°23'46"E

Pada situs ini yang nampak sekarang adalah sebidang tanah di tengah sawah yang di kelilingi tembok buat­an baru. Di dalamnya kita dapati bekas kaki candi yang dibuat dari batu andesit berbentuk segi empat dengan panjang sisinya ± 5,60 meter. Di atasnya kita dapati sebuah Yoni yang amat besar. Tingginya 1,22 meter, panjangnya 1,83 meter dan lebarnya 1,91 me­ter. Bagian ceratnya didukung dengan pahatan kepala naga.

Yoni ini merupakan peninggalan purbakala yang penting, karena disamping ukurannya yang sangat be­sar juga karena memuat pahatan angka tahun 1294 caka.

Tahun Masehi menjadi 1372. Dan angka tahun ini bertepatan dengan meninggalnya Bhre Kahuripan. Oleh karena itu kompleks situs Klinterejo itu bisa di­katakan sebagai candi pemakaman dari Bhre Kahuri­pan atau Tribuwana Tunggadewi ialah ibu dari Hayam Wuruk.

Disamping itu kita dapati juga sebuah batu besar yang merupakan batu prasasti, tapi belum selesai di­kenakan. Di luar tembok kita dapati sejumlah umpak- umpak batu besar. Hal ini menunjukkan bahwa di tempat itu dahulunya ada bangunan pendopo yang tentunya cukup besar pula.