Selasa, 08 Juli 2014

Candi Minakjinggo,




Candi Minakjinggo Terletak di Dusun Unggah – Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Lokasinya disebelah timur Kolam Segaran, tidak jauh dari Kubur Panjang dan makam Putri Cempo.

Candi Minakjinggo merupakan satu – satunya situs di kawasan Trowulan yang terbuat dari batu adesit. Ditempat ini hanya tersisi bongkahan pondasi eandi. Sisa bangunan yang lain di simpan di Museum.

Nama candi berasal dari area raksasa bersayap yang oleh masyarakat disebut Minakjinggo. Menurut perkiraan arkeolog, diduga sebagai area Garuda. Tahun 1977 dilakukan penggalian pereobaan. Mulai tahun 2007 candi ini direkontruksi dan selesai 2011.










Candi Sawentar

 
Bila anda berkunjung ke Kabupaten Blitar, sempatkanlah mengunjungi salah satu situs warisan Kerajaan Majapahit, Candi Sawentar. Merupakan sebuah candi Hindu yang terletak di Ibukota Kabupaten Blitar yang baru. Tepatnya berada di Dusun Centong - Desa Sawentar - Kecamatan Kanigoro, kira-kira tiga kilo meter dari ibukota (baru).
Komplek Candi Sawentar ini berada pada lahan seluas 1.565 meter persegi. Bisa dibilang unik, sebab bangunan candi ini seolah berada di kolam. Sehingga meski sebenarnya cukup tinggi, karena berada sekitar empat (4) meter di bawah permukaan tanah, tidak terlihat menjulang. Bagian atas candinya saja yang terlihat setinggi satu meter dari jalan datar (gapura candi).
Dan meskipun Candi Sawentar ini bukan merupakan yang terbesar di Blitar, namun bentuk fisik Candi Sawentar cukup megah. Ukuran panjang kali lebar Candi Sawentar yaitu sembilan setengah (9,5) kali enam koma delapan (6,8) meter. Sedangkan ketinggian asli bangunan utama candi adalah lima belas setengah meter (15,5) meter.
Namun, ketinggian riilnya saat ini tinggal sepuluh setengah (10,5) meter. Bagian puncak Candi Sawentar pecah. Puing-puing pecahan ini disebut ‘Batu Pecah’. Batu Pecah yang dibentuk ulang, hanya setinggi satu setengah (1,5) meter dari ukuran asli puncak candi. Sedangkan tiga setengah (3,5) meter pecahan yang lainnya belum ditemukan.
Sampai sekarang belum ada keterangan resmi, kapan pertama kali Candi Sawentar dibangun. Angka tahun atau prasasti yang merujuk kesana tidak ditemukan. Hanya saja, menurut Sugeng Ahmadi M - Juru Pelihara, petugas dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur, Trowulan Mojokerto - penggalian Candi Sawentar pertama kali dilakukan pada Tahun 1915.
Waktu pertama kali di gali, hanya sebagian atas candi saja yang terlihat. Sisanya tertimbun oleh abu vulkanik dari erupsi Gunung Kelud.

Candi Sawentar dibangun sebagai tempat pemujaan dan semedi. Ikonografi reliefnya tidak begitu banyak. Lukisan pada candi didominasi oleh gambar Kala yang cukup besar pada empat sisi candi bagian atas. Kala berbentuk seperti potongan kepala raksasa (Jawa = butho, red.) dengan taring terhunus, dan bola mata yang melotot menakutkan menandakan penjaga keamanan.
Pada bangunan utama candi (tepatnya ditengah) sisi sebelah barat, merupakan pintu masuk ke tempat pemujaan. Untuk mencapainya, dari bagian dasar candi pengunjung harus meniti tangga batu yang lebarnya tak sampai satu meter.
Didalam tempat pemujaan ini, terdapat Yoni dan Surya Majapahit.
Yoni berupa batu persegi berukuran kurang lebih satu meter, yang ditengahnya berlubang. Bentuknya menyerupai lumpang (media untuk menumbuk padi) sebagai simbul kesuburan.
Sedangkan pada bagian atap atau langit-langit tempat pemujaan, melekat relief Surya Majapahit. Surya Majapahit, konon merupakan sebuah simbul yang melambangkan kebesaran atau kejayaan Kerajaan Majapahit.
Komplek Candi Sawentar terawat cukup bagus.
Bangunan utama candi, juga Batu Pecah dan sekumpulan benda-benda purbakala lain dilokasi ini dalam kondisi bersih dan tertata rapi. Tekstur batunya terlihat jelas, tak berlumut meskipun panas dan hujan silih berganti hampir setiap hari.
Kondisi taman disekeliling Candi Sawentar juga lumayan indah. Tanamannya subur-subur, dipotong rapi. Demikian juga dengan hamparan rumput menghijau dari dasar letak candi sampai ke atas (dinding tanah), terawat sedap dipandang mata.
Lebih dari sekedarnya. Bukan hanya tempat untuk mengagumi mahakarya leluhur atau tempat bersembahyang (umat Hindu) saja. Nuansa pedesaan di lokasi candi yang alami, juga menawarkan kesejukan yang tiada tara. Nyamannya suasana di sekitar lokasi membuat pengunjung betah berlama-lama tinggal disini.
Makanya, tak heran bila banyak pengunjung yang datang ke Candi Sawentar. Pemugaran oleh Pemkab Blitar untuk nguri-nguri (melestarikan, red.) warisan leluhur pada Tahun 1991 rupanya menuju sukses. Dari buku tamu yang disediakan, setiap bulannya tidak kurang dari lima ratus (500) pengunjung yang datang kesini dari berbagai belahan nusantara.

Kurang lebih seratus (100) meter ke arah tenggara dari bangunan utama Candi Sawentar, pada Tahun 1999 juga ditemukan sekumpulan benda purbakala. Awalnya tertimbun tanah pada kedalaman sekitar tiga (3) meter, yang kemudian kumpulan benda-benda purbakala ini diberi nama Candi Sawentar II.
Sayangnya, berbeda dengan Candi Sawentar yang sudah permanen, Candi Sawentar II baru pada tahap penelitian awal. Entah alasannya apa, tetapi yang jelas, lahan yang dipakai masih merupakan lahan milik warga (belum ada pembebasan tanah).
Setelah dilakukan penggalian sementara (sebelum akhirnya ditimbun lagi karena faktor keamanan), komplek Candi Sawentar II ternyata juga cukup luas. Tidak kurang dari seribu tiga ratus lima puluh (1.350) meter persegi.
Candi Sawentar II merupakan monumen peninggalan Raja Suhita -Raja Majapahit yang terakhir. Monumen ini dibangun pada Tahun 1.358 Saka atau 1.436 M. Candi Sawentar II dibangun untuk mengenang Perang Paregreg, pertempuran perebutan kekuasaan antara Wikrama Wardana dan Bre Wirabumi.
 






 

Candi Penataran

 
 
 
 
 
Candi Penataran, adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu yang telah ada sejak kerajaan Kediri dan digunakan sampai era kerajaan Majapahit.

Komplek candi Penataran ini merupakan komplek candi terbesar di Jawa Timur dan terletak di lereng barat daya Gunung Kelud. Terletak pada ketinggian 450 M dari permukaan laut, komplek candi Penataran ini terletak di desa Panataran, kecamatan Nglegok, Blitar.

Candi Penataran ditemukan pada tahun 1815, dan belum banyak dikenal sampai tahun 1850. Komplek candi ini ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang merupakan Letnan Gubernur Jendral pada masa kolonial Inggris di Indonesia pada waktu itu.

Raffles bersama-sama dengan Dr.Horsfield seorang ahli Ilmu Alam mengadakan kunjungan ke Candi Panataran, dan hasil kunjunganya dibukukan dalam buku yang berjudul "History of Java" yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini di kemudian hari diikuti oleh para peneliti lain yaitu : J.Crawfurd seorang asisten residen di Yogyakarta, selanjutnya Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) dan N.W.Hoepermans yang pada tahun 1886 mengadakan inventarisasi di komplek candi Panataran.

Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dan dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa. Raja Çrnga memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 - 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus.
 
 



















 

Candi Sumbernanas



Candi ini terletak di Desa Rejoso, Kecamatan Ponggok.Blitar
dengan koordinat: 8°0'40"S 112°8'33"E
Situs ini dikelilingi ladang dan hutan dan terbuat dari batu bata. Sekarang ini hanya puing yang tertinggal. Candi Sumbernanas pertama kali ditemukan pada tahun 1919, saat tanah di sekitar candi longsor akibat letusan Gunung Kelud. Keadaan bangunanya telah runtuh dan berantakan, hanya tersisa beberapa bagian saja. Oleh karena itu, masyarakat sekitar menyebutnya Candi Bubrah (yang artinya berantakan).



Atap dan tubuh telah hilang dan hanya kaki yang dapat dilihat. Menurut orang setempat keadaan candi yang kurang baik disebabkan oleh Gunung Kelud yang mengakibatkan kerusakan di wilayah itu kalau meledak. Pada dasar candi terdapat sebuah bentuk sumur persegi. Diduga merupakan tempat penyimpanan peripih di Candi Sumbernanas. Dilihat dari struktur bangunan yang terbuat dari batu bata, candi ini merupakan candi masa Majapahit atau bahkan lebih tua dari masa Kerajaan Majapahit.
banyak yang mengatakan bahwa bangunan candi ini berasal dari masa Mpu Sindok.



Struktur arsitektur ini sejalan dengan pendapat Soekmono yang mengatakan bahwa candi yang tidak mempunyai bagian sumuran adalah candi yang berlatar belakang agama Budha. Pada bagian kaki candi terdapat lubang yang disebut sumuran. Di atas sumuran pada bangunan candi Hindhu umumnya terletak dewa Siwa atau dalam wujud lainnya yaitu Lingga, lingga biasanya diletakkan di atas Yoni dan di dalam sumuran terdapat sebuah kotak batu atau peripih yang berbentuk kubus, tempat menyimpan benda-benda magis. Dengan demikian sebenarnya yang menjadi inti candi adalah peripih tersebut (Soekmono: 1974: 64-77).




Candi Kalicilik



Adalah sebuah candi Hindu yang terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur dengan koordinat7°59'53.58″S 112°8'25.08″E . Bangunan candi ini terbuat dari bata merah dan memiliki denah bujur sangkar dengan ukuran 6,8 m x 6,8 m, serta tingginya 8,3 cm. Candi ini terdiri atas tiga bagian yaitu candi, tubuh candi dan atap candi. Pintu candi menghadap ke arah barat dan di atasnya terdapat hiasan berupa kala. Pada sisi utara, timur dan selatan terdapat relung-relung yang juga berhiaskan kala pada bagian atasnya. Bilik candi kosong dan pada dindingnya terdapat relief Dewa Surya yang dikelilingi oleh sinar matahari. Relief ini merupakan relief Surya Majapahit, yakni simbol dari masa Kerajaan Majapahit. Bagian puncak candi telah hilang, sedangkan bagian kaki candinya telah direnovasi pada tahun 1993. (http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Kalicilik)

Candi ini sendiri berada di antara pemukiman warga dan berada di pinggir jalan. Tidak terlalu sulit untuk menemukan keberadaan candi ini. Sebab tatkala melintas jalur alternatif Blitar - Kediri lewat Ponggok, tepatnya di Desa Bacem, ada penanda yang menunjukkan arah keberadaan candi ini. tanda itu berada di sebelah timur jalan, atau kalau dari Blitar berada di kanan jalan. Dari jalan utama lurus ke timur sekitar 5 km dan candi berada di sebelah utara jalan. Candi ini berada satu desa dengan Candi Sumbernanas.

Sama seperti candi-candi lainnya selain Candi Penataran, jumlah pengunjung di candi ini bisa dihitung dengan hitungan jari. Hanya orang-orang tertentu yang berkunjung ke candi ini. Selain itu juga tidak ada fasilitas pendukung sebagai objek pariwisata. Hanya pos penjagaan dan pagar pengaman agar keberadaan candi ini tidak rusak dan hilang karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab. Sudah selayaknya objek wisata yang berada di pinggiran juga diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui agenda pariwisata yang bisa diadakan Pemkab Blitar. Jangan hanya memperkenalkan salah satu candi saja, semua harus mendapatkan perlakuan yang sama agar potensi yang ada bisa tergali dan bisa dirasakan masyarakat sekitarnya. Ayo diperhatikan !!!!