Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

Candi Penataran

 
 
 
 
 
Candi Penataran, adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu yang telah ada sejak kerajaan Kediri dan digunakan sampai era kerajaan Majapahit.

Komplek candi Penataran ini merupakan komplek candi terbesar di Jawa Timur dan terletak di lereng barat daya Gunung Kelud. Terletak pada ketinggian 450 M dari permukaan laut, komplek candi Penataran ini terletak di desa Panataran, kecamatan Nglegok, Blitar.

Candi Penataran ditemukan pada tahun 1815, dan belum banyak dikenal sampai tahun 1850. Komplek candi ini ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang merupakan Letnan Gubernur Jendral pada masa kolonial Inggris di Indonesia pada waktu itu.

Raffles bersama-sama dengan Dr.Horsfield seorang ahli Ilmu Alam mengadakan kunjungan ke Candi Panataran, dan hasil kunjunganya dibukukan dalam buku yang berjudul "History of Java" yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini di kemudian hari diikuti oleh para peneliti lain yaitu : J.Crawfurd seorang asisten residen di Yogyakarta, selanjutnya Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) dan N.W.Hoepermans yang pada tahun 1886 mengadakan inventarisasi di komplek candi Panataran.

Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dan dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa. Raja Çrnga memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 - 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus.
 
 



















 

Jumat, 06 Juni 2014

Candi Dorok


 

Candi Dorok yang ditemukan di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu - Kabupaten Kediri ini, terbuat dari batu bata, seperti umumnya candi-candi di wilayah Jawa Timur. Dikarenakan telah terkubur cukup lama dan belum dilakukannya renovasi mengakibatkan batu penyusun candi ini tampak berwarna putih seperti warna tanah yang ada disekitarnya dan banyak ditumbuhi lumut pada bagian dasarnya. Bangunan candi ini terletak dibawah permukaan tanah sedalam 3 meter.

Penemuan Candi Dorok ditemukan oleh seorang petani secara tidak sengaja saat hendak menanam bibit pohon Melinjo di pekarangan rumahnya. Saat menggali tanah, cangkul yang digunakannya mengenai tumpukan batu bata yang ketika digali lebih lanjut makin melebar dan membentuk bidang segiempat. Penggalian lebih lanjut oleh dinas arkeologi menemukan bahwa tumpukan batu bata tersebut merupakan bagian dari badan Candi yang hal itu berarti pula bagian atas dari Candi Dorok ini sudah tidak ada lagi.

Salah satu penggalan relief yang ada di candi ini sehingga tanah yang ada di sekitar candi di gali membentuk bidang segiempat dan disediakan sebuah tangga yang terbuat dari tanah yang menjorok ke dalam dan bisa digunakan oleh pengunjung untuk melihat lebih dekat bagian dasar candi. Pada bagian atas candi telah dibangun atap dari seng untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat panas dan hujan .

Tidak ada arca yang bisa dijumpai oleh pengunjung pada candi ini. Relief-relief yang ada juga berada kondisi rusak parah sehingga menyulitkan untuk mengetahui motifnya. Sebuah arca kecil yang ada pada bagian atas candi ketika saya coba tanyakan kepada penjaga situs, bukan merupakan bagian dari candi, melainkan dari lokasi lain. Belum ada penjelasan secara lebih mendetil akan asal-usul atau sejarah yang berkaitan dengan pendirian candi ini, namun berdasarkan bahan pembentuk candi diperkirakan candi ini berasal dari abad ke 10 M.





Candi Tegowangi Kadiri

Candi Tegowangi secara administratif terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan,Kabupaten Kediri, Propinsi Jawa Timur.
Sekitar 45 menit berkendara dari Kota Kediri ke arah Kota Pare, akses jalan menuju ke Candi tidak begitu luas melewati perkampungan penduduk, pintu gerbangnya pun sederhana sekali,
tetapi begitu kita memasuki areal candi yang lumayan luas akan disambut oleh hamparan rumput yang dan taman yang lumayan rapi dan terawat, kesejukan tambah terasa oleh paduan pepohonan sengon di sekitaran candi dan lapangan bola di sebelah areal candi yang menghijau.






Menurut Kitab Pararaton candi ini merupakan tempat Pendharmaan Bhre Matahun,
sedangkan dalam Kitab Negarakertagama dijelaskan bahwa Bhre Matahun meninggal tahun 1310 Saka (1388 M). Maka diperkirakan Candi ini dibuat pada tahun 1400 M dimasa Majapahit, karena pendharmaan seorang Raja dilakukan 12 tahun setelah raja meninggal dengan upacara Srada.

Secara umum candi ini berdenah bujursangkar menghadap barat berukuran 11,20 meter x 11,20 meter, tinggi 4,35 meter. Pondasinya terbuat dari bata, sedangkan batur kaki dan sebagian tubuh yang tersisa terbuat dari batu andesit.

Bagian kaki candi berlipit dan berhias, Tiap sisi kaki candi ditemukan tiga panil tegak yang dihiasi raksasa (gana) duduk jongkok, kedua tangan diangkat ke atas seperti mendukung bangunan candi.
Diatasnya terdapat tonjolan-tonjolan berukir melingkari kaki candi, di atas tonjolan terdapat sisi genta yang berhias.

Pada bagian tubuh candi, ditengah-tengah pada setiap sisinya terdapat pilar polos yang menghubungkan badan dan kaki candi. Pilar-pilar itu tampak belum selesai dikerjakan.
Di sekeliling tubuh candi dihiasi relief cerita Sudamala yang berjumlah 14 panil yaitu 3 panil di sisi utara, 8 panil di sisi barat dan 3 panil sisi selatan.
Cerita ini berisi pengruwatan (pensucian) Dewi Durga dalam bentuk jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuk baik yang dilakukan oleh Sadewa,bungsu Pandawa.

Sedangkan pada bilik tubuh candi terdapat Yoni dengan cerat (pancuran) berbentuk naga.

Di halaman candi terdapat beberapa arca yaitu Parwati,Ardhanari,Garuda berbadan manusia dan sisa candi di sudut tenggara.

Berdasarkan arca-arca yang ditemukan dan adanya Yoni di bilik candi, maka candi ini berlatar belakang Agama Hindu.























Candi Surowono

 Candi Surowono terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Candi Surowono diperkirakan oleh para arkeolog sebagai tempat pendharmaan Bhre Wengker dari masa Majapahit. Sesuai dengan keterangan dari kitab Negarakertagama bahwa Bhre Wengker meninggal pada tahun 1388 M dan didharmakan di curabhana (surowono). Berdasarkan keterangan tersebut maka Candi Surowono diperkirakan didirikan pada tahun 1400 M.


Relief yang terdapat pada Candi Surowono cukup beragam. Pada kaki candi terdapat relief-relief fable dan tantri. Sedangkan pada badan candi terpahat relief Arjunawiwaha (di sudut barat daya), Bubuksah (di timur laut), dan Sri Tanjung (di tenggara). Berdasarkan relief-relief tersebut latar belakang keagamaan Candi Surowono adalah agama Hindu.

Selain candi, di Desa Canggu juga terdapat goa bawah tanah. Goa itu disebut dengan sebutan Goa Surowono. Goa Surowono merupakan aliran sungai bawah tanah dan memiliki lima mulut goa. Kelima mulut Goa tersebut saling terhubung satu sama lain.










pintu masuk goa surowono